Pengertian I’tikaf, Syarat dan Rukun I’tikaf, Hikmah, Serta Beberapa Hadits

Pengertian I’tikaf, Syarat dan Rukun I’tikaf, Hikmah, Serta Beberapa Hadits – Apa yang dimaksud dengan I’tikaf? Kali ini kampuskuis.com akan menjelaskan pengertian tentang I’tikaf, syarat dan rukun I’tikaf, hikmah I’tikaf serta beberapa hadits yang menjelaskan I’tikaf. Simak penjelasan dibawah ini.

Pengertian I’tikaf, Syarat dan Rukun I’tikaf, Hikmah, Serta Beberapa Hadits

 

Pengertian I’tikaf

Pengertian I’tikaf secara bahasa artinya berdiam diri yaitu tetap di atas sesuatu. Sedangkan secara syari’ah agama, I’tikaf artinya berdiam diri di masjid sebagai ibadah yang disunahkan untuk dilakukan di setiap saat dan diutamakan pada bulan suci Ramadhan, dan lebih dikhususkan sepuluh hari terakhir untuk mengharapkan/menginginkan datangnya Lailatul Qadr.

I’tikaf berarti berhenti (diam) di didalam masjid dengan persyaratan tertentu, semata-mata niat beribadah kepada Allah. I’tikaf sunnah dikerjakan setiap saat, namun yang paling utama (afdhal) jika dikerjakan didalam bulan Ramadhan. I’tikaf pada bulan Ramadhan dapat dikatakan sebagai ruang/area perawatan khusus untuk menyingkirkan/menghilangkan kanker dosa dari dalam hati.

I’tikaf merupakan lingkungan khusus yang jauh dari noda dan kotoran dunia. Konon Rasulullah selalu melaksanakan I’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Kemudian pada tahun di mana beliau meninggal dunia, beliau beri’tikaf sepanjang/selama dua puluh hari. Ketika beliau tidak dapat i’tikaf, beliau sesudah itu menggantinya dengan I’tikaf sepuluh hari pertama di bulan Syawal. Tindakan Rasulullah itu merupakan bukti pentingnya ibadah i’tikaf. Kesungguhan Rasulullah untuk mengerjakan ibadah yang satu ini juga bisa menjadi motivasi/dorongan bagi Anda untuk melakukan/melaksanakan hal yang sama.

Syarat dan Rukun I’tikaf

Sebelum melaksanakan i’tikaf, perlu untuk memperhatikan dan mencermati syarat dan rukunnya, yaitu :

  • Niat, didalam i’tikaf wajib ada niat agar orang yang melakukannya mengerti dan dapat memahami apa yang mesti dilakukan, tidak melamun, dan pikiran tidak kosong.
  • Diam didalam masjid dan meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak boleh dikerjakan oleh orang yang tengah beri’tikaf, sebagaimana firman Allah SWT “…Tetapi, jangan kamu campuri mereka, saat kamu beri’tikaf didalam masjid.” (QS Al-Baqarah: 187).
  • Orang yang melaksanakan i’tikaf wajib muslim, berakal, suci dari hadas besar (ada pendapat yang mengatakan bahwa hadas kecil juga membatalkan I’tikaf), dan wajib di masjid.

Iktikaf yang disyariatkan ada dua macam : I’tikaf sunat dan wajib.

Macam-macam I’tikaf

  • Iktikaf sunnat adalah iktikaf yang dikerjakan secara sukarela semata-mata untuk mendekatkan diri dan mengharapkan ridha Allah SWT seperti; iktikaf 10 hari terakhir pada bulan Ramadan.
  • Iktikaf wajib adalah iktikaf yang dikerjakan karena bernazar (janji), seperti: “Kalau Allah SWT menyembuhkan penyakit ibuku, maka aku akan beriktikaf”.
  • Menurut mazhab Syafi’i I’tikaf bisa dikerjakan kapan saja dan seriap saat, dengan tanpa batasan lamanya seseorang berI’tikaf. Begitu seseorang masuk ke didalam masjid dan ia niat I’tikaf maka syahlah I’tikafnya.
  • I’tikaf bisa dikerjakan sepanjang/selama satu bulan penuh, atau dua puluh hari. Yang lebih utama adalah sepanjang/selama sepuluh hari terakhir bulan suci Ramadhan sebagaimana dijelaskan oleh hadist di atas.
  • Untuk I’tikaf wajib teragntung kepada berapa lama waktu yang dinadzarkan, tetapi I’tikaf sunnah tidak ada batasan waktu tertentu. Kapan saja pada siang atau malam hari, waktunya bisa lama dan bisa juga singkat.

Hikmah I’tikaf

  • Orang yang sakit dan membawa kesulitan/kesusahan didalam melakukan/melaksanakan I’tiakf.
  • Mendidik diri kita lebih taat dan tunduk kepada Allah.
  • Seseorang yang tinggal di masjid ringan/mudah untuk memerangi hawa nafsunya, dikarenakan masjid adalah tempat/area beribadah dan membersihkan jiwa.
  • Masjid merupakan madrasah ruhiyah yang telah barang pasti/tentu selama sepuluh hari ataupun lebih hati kita akan terdidik untuk senantiasa suci dan bersih.
  • Tempat dan waktu yang baik untuk menjemput datangnya Lailatul Qadar.
  • I’tikaf adalah salah satu cara/langkah untuk meramaikan masjid.
  • Dan ibadah ini adalah salah satu cara/langkah untuk menghargaimenghormati bulan suci Ramadhan.

Hadits yang Menerangkan I’tikaf

Ada beberapa hadits yang berbicara tentang I’tikaf, yaitu :

  • Dari Abdullah bin Umar r.a. bahwa ia berkata, “Rasulullah Saw. I’tikaf sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR Bukhari).
  • Dari Aisyah bahwa ia berkata, “Rasulullah Saw melakukan I’tikaf sesudah tanggal dua puluh Ramadhan hingga beliau meninggal dunia.” (HR Bukhari dan Muslim).
  • Dari Ubay bin Ka’ab dan Aisyah: “Rasulullah beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, hinggal Allah menjemputnya (wafat).” (HR. Bukhari Muslim).

Demikian penjelasan tentang Pengertian I’tikaf, Syarat dan Rukun I’tikaf, Hikmah, Serta Beberapa Hadits. Apabila artikel ini bermanfaat tolong bantu share ke media social kamu. Semoga menambah ilmu pengetahuan. Terimakasih

Leave a Comment